Asiknya tinggal di Florida ini adalah adanya cem-macem camilan yang sama dengan jamanku tumbuh di Jakarta. Hari ini di pasar swalayan, aku lihat ada buah pepaya, mangga, pisang, jambu, seperti di Pasar Minggu.
Yang lebih mengejutkan lagi buatku, ternyata kacang tanah banyak dijual. Harga sekilo kacang rebus siap saji di pasar swalayan adalah $3.99 alias Rp 36.309,-.
Ya, ini dia tulisanku hari ini di Multiply. Tentang kacang rebus. Salah satu camilan favorit keluargaku semasa aku kecil. Ada satu cerita unik yang tak kan pernah terlupakan buatku tentang kacang rebus.
Suatu sore hari, adikku yang ketiga yang berusia 7 tahun, berkata kepada ayah kami, “Pak, aku nggak mau pergi sekolah lagi besok.” Entah apa yang ada dibenaknya saat itu, sebab waktu Bapak bertanya mengapa dia nggak mau lagi pergi sekolah, adikku hanya menggelengkan kepalanya tanpa bersuara, alias diam.
Dengan tenang, Bapak kemudian mengumpulkan aku, dan kedua adikku. Beliau menyisir rapi rambut kami bertiga, dan memberitahu Ibu bahwa kami berempat akan pergi membeli beberapa bungkus kacang rebus. Letak kios penjual kacang rebus langganan kami tak jauh dari rumah, jadi berjalanlah kami berempat sepanjang 200 meter.
Sesampainya kami di sana, Bapak memesan beberapa bungkus kacang rebus. Kemudian beliau mengangkat adikku yang ketiga untuk menggendongnya. “Lihat nak, sibuknya pak penjual kacang rebus ini,” katanya seraya menunjuk ke arah tumpukkan kacang rebus dan uap hangat khasnya di hadapan kami. Lalu, Bapak memulai suatu percakapan dengan pak penjual kacang rebus itu.
“Pak, asal bapak’e dari mana?”
Sang penjual menjawab singkat, “Jawa, pak.”
Bapak: “Ooo. Bapak dulu sekolah di mana, pak?”
Sang penjual kacang rebus: “Wah, saya mek lulus Sekolah Rakyat, pak’e. Orangtua ndak punya uang untuk ngirim saya sekolah tinggi seperti sampeyan. Padahal kalo ada kesempatan, ya saya mau jadi orang pinter dan besar, pak.”
Bapak: “Ooo. Mesakne sampeyan, pak. Berapa pak untuk kacang rebusnya?”
Pak penjual kacang rebus menyebut harga, dan kemudian Bapak mengulurkan sejumlah uang seraya berkata, “Gak usah kembali, pak’e, sampeyan simpen saja. Suwun nggih.”
Sekian meter dari kios itu dengan beberapa bungkus kacang rebus di tangan kami, secara perlahan Bapak bicara, “Coba lihat nak, sulitnya hidup dengan ijasah Sekolah Rakyat. Sekolah Rakyat itu sama dengan Sekolah Dasar. Bapak penjual kacang rebus itu saja bilang, kalau saja orangtuanya mampu membiayai dia sekolah tinggi, tentunya dia mau jadi orang besar yang punya pekerjaan yang lebih baik dari pada sekedar menjual kacang rebus. Tentunya, harta bukanlah satu-satunya tujuan hidup kita, tapi tanpa pergi ke sekolah, yah kita bisa susah nantinya. Jadi janganlah kalian menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk sekolah.”
Sejak perbincangan itu, tak satu pun di antara kami, anak-anak Bapak dan Ibu, yang berani bicara tentang bolos sekolah. Barangkali selalu tertancap di benak kami wanti-wanti Bapak, kalau tidak mau jadi penjual kacang rebus, ya kami harus rajin pergi sekolah.
Tapi yah tetep aja kacang rebus adalah salah satu panganan kegemaranku. Walau pun terakhir kalinya aku makan camilan yang satu ini sekitar 30 tahun yang lalu. Entah mengapa, wejangan Bapak saat di sore hari kami beli kacang rebus itu terekam dengan sempurnanya dalam ingatanku. Seolah-olah baru kemarin saja Bapak mengingatkan kami untuk senantiasa menuntut ilmu, setiap hari, sepanjang masa. Bapak dan kata-kata bijaknya yang diwariskannya kepada kami sebagai salah satu harta yang paling berharga.
Mungkin masa kecilku yang penuh kenangan dengan sosok yang mengagumkan itulah yang mendorongku untuk membeli sekilo kacang tanah mentah berharga murah ($2.39 alias Rp21.749,-) kemarin.
Sesampainya di rumah, Kangmas membantuku meracik bumbu sederhana, sedikit garam, bubuk bawang putih, dan bubuk cabe merah. Walau sedikit berbeda dengan rasa kacang rebus yang Bapak beli untuk kami sekeluarga dulu, ternyata resep “Southern Boiled Peanuts” ini pas juga untuk lidah Jawaku.
Ahh, Bapak, kalau saja engkau di sini bersamaku, menikmati kacang rebus ala Amerika. Kami semua rindu kepadamu, Bapak. Ibu, aku, suamiku, adik-adikku, dan semua anak-anak kami.