Sekitar dua minggu yang lalu salah satu sobat dekat Kristianiku bertanya tentang pendapatku tentang Geert Wilders dan filem rancangannya, "Fitna".
"Ah, lagi-lagi fitnah," kataku seraya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum lelah. Yah, lagi-lagi fitnah. Fitnah serupa tentang agama yang juga pernah aku dengar dari kaumku sendiri, kaum Muslim, yang doyan menjelek-jelekkan agama Kristiani dengan mengutip ayat-ayat dari Kitab Injil. Fitnah serupa tentang agama yang juga pernah dikumandangkan oleh beberapa kenalan Kristianiku yang memaksaku untuk mempercayai bahwa sesungguhnya agama lain selain dari agama mereka, adalah agama yang sesat, dengan dasar ayat-ayat Kitab Injil yang sama.
Dengan mata menerawang menatapi langit yang kosong, aku bergumam sendiri, "Ya Tuhan, perjuangan menyebar damai di bumi ini masih panjang, rasanya capeeeek deh, mendamaikan nih orang-orang!"
Tak bisa disangkal sudah berulang kali aku baca ayat-ayat tentang perang dalam Al Qur'an, juga kekerasan di Perjanjian Lama dalam Injil, atas desakan mereka yang punya agenda. Tapi patutkah kita memfitnah suatu agama, dan kaum penganutnya atas dasar diskriminasi, rasa benci, dan niat jahat untuk menindas dan menguasai? Demikian rendahkah harga jiwa mereka yang rela menjual rasa malu dan takut akan hukum Tuhan demi ketenaran di dunia? Ah betapa murahnya mereka jual harga jiwa mereka di dunia, sementara itu demikian mahalnya harga yang harus mereka tebus di hadapan Sang Pencipta.
"Fitna" bukanlah fitnah pertama yang datang dari kaum yang berniat meluluhlantakkan perdamaian dunia dengan alasan kebebasan. Kebebasan untuk bicara, kata mereka. Yang sebenarnya adalah kebebasan untuk merenggut kebebasan kita semua, umat dunia yang cinta damai, dari menyebarkan ajaran Tuhan yang hakiki, untuk menebarkan cinta di muka bumi. Kebebasan yang kebablasan. Kebebasan yang hanya melayani kepuasan batin mereka pribadi yang selalu haus akan kebanggaan nan fana di dunia. Kebebasan yang tak peduli akan penderitaan sesama umat manusia. Kebebasan tanpa batas, yang kalau perlu dipertahankan tanpa kenal rasa malu. Kebebasan yang masa bodoh tanpa rasa prihatin, tanpa rasa perikemanusiaan, dan yang utama, kebebasan yang tak mengindahkan perintah-perintah Tuhan, dan wanti-wanti mereka yang telah mendahului kita yang berpesan agar kita senantiasa siaga menjaga perdamaian dunia.
Barangkali ada tanya di hatimu, sobatku, wanti-wanti yang mana?
Wanti-wanti mendiang Romo Paus John Paulus II yang tercinta: "Untuk melakukan kejahatan, mempromosikan kekerasan, dan menyebabkan pertengkaran atas nama agama, adalah suatu keterbalikan yang mengerikan, dan suatu pelanggaran yang hebat terhadap Tuhan." (Pidato saat tiba di Mesir, tahun 2000).
Beliau juga mengingatkan kita untuk tak pernah lupa, "Ibrahim, kakek moyang kita semua, mengajari kita semua, kaum Kristiani, Yahudi, dan Muslim, untuk mengikuti jalan yang penuh ampunan dan cinta ini." (Pidato di Lisbon, Portugal, tahun 1982).
Demikian pula sobat-sobatku, dalam Al Qur'an Surah 6 ayat 108, Allah SWT melarang kita untuk menghina agama lain. Dan dalam Al Qur'an Surah 49 ayat 10-13 Allah SWT memerintahkan kita untuk saling mencintai sesama umat manusia, tanpa pandang bulu. Allah juga melarang kita untuk saling mengejek, dan saling menghina satu sama lain. Karena pada dasarnya kita semua bersaudara, sesama saudara yang datang dari satu pasang ayah dan bunda, Adam dan Hawa.
Di senja sendu menjelang malam ini, aku hanya bisa berdoa, "Ya Allah, ya Tuhan kami, lindungilah kami, umat manusia sedunia, dari fitnah dan kebebasan yang kebablasan ini. Dari kebebasan jahat yang sesungguhnya hanya sekedar alasan untuk menindas kebebasan kami melaksanakan perintahMu untuk menebar cinta di jagat raya milikMu jua. Dan perkenankanlah kami meneruskan misi kedamaian yang telah dirintis oleh nabi-nabi kami, Nabi Muhammad salallahu alayhi wa salam, Nabi Isa alayhi salam, dan pemimpin-pemimpin yang telah mendahului kami, Romo Paus John Paulus II, dan Bunda Teresa. Perkenankan pula doa kami agar mereka terjaga dengan penuh cinta dalam surgaMu, yaitu surga hamba-hamba sejatiMu yang senantiasa melaksanakan perintahMu dan menjauhi laranganMu. Amin."