Love is Blind, says my Kangmas!

Blog EntryTradisiMar 12, '08 6:53 PM
for everyone

 

Ketika aku masih kecil, adalah tradisi di rumahku untuk meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang selalu siap sedia menuntun setiap langkah kita.  Karenanya, kata bapak ibuku, "Berhati-hatilah dalam menempuh jalan hidup."  Sebab, sebagaimana pinta yang kita ucapkan kepada Gusti Allah dalam surah Al Fatiha: "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.  Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."

"Gusti Allah iku ora sare, ndhuk," begitu ajaran ibuku, seraya menyenandungkan Ayat Kursi (Al Baqarah, 255).  Demikian agungnya cinta kasih Tuhan kepada kita mahluk ciptaanNya, sehingga layaklah bagi kita untuk senantiasa mengumandangkan puji syukur atas karuniaNya.

Dan adalah tradisi bagiku ketika aku mulai bicara, untuk menghafalkan satu doa ajaran bapakku, "Rabbighfirlii wali walidayya warham huma kama rabbayani soghiroo.  Ya Allah ya Tuhanku, kasihilah kedua orangtuaku, sebagaimana mereka mengasihiku semenjak aku masih kecil." 

Dan adalah tradisi bagiku setiap kali eyang kakung, kakekku, berkunjung semasa aku kecil, untuk mendengar kisah keberanian dan keteguhan keluargaku mengusir penjajah Belanda dan Jepang walau kemerdekaan negeriku harus ditebus dengan nyawa.  Nyawa sekian banyak anggota keluargaku yang tak rela dijadikan budak dan dirampok para penjajah yang kejam. 

"Jangan jadikan pengorbanan kami sia-sia, ndhuk," demikian wasiat bapakku.  "Jadilah orang yang berguna bagi agamamu, negara dan bangsamu, serta keluargamu.  Jagalah Indonesia agar tetap merdeka dan berjaya, jagalah martabat dan harga diri bangsa kita."

Ketika aku masuk Sekolah Dasar, adalah tradisi bagiku untuk mendengar wanti-wanti yang sama.  Tentang meyakini Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.  Sesungguhnya walau berbeda, kita semua, bangsa Indonesia, tetap satu jua.  Sesungguhnya negeriku adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdiri atas dasar nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Aku bangga bahwa hingga hari ini, sekian puluh tahun kemudian setelah kepergian pahlawan-pahlawan dari tanah airku Indonesia, adalah masih juga tradisi buatku untuk menghayati kata demi kata Sumpah Pemuda.

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Dan adalah tradisi buatku untuk meneruskan ajaran-ajaran luhur itu kepada anak-anakku, generasi penerus yang nantinya mengusung tugas menjadi orang-orang yang berguna bagi agama, negara dan bangsa dan keluarga mereka. 

Dan kala tiba waktuku untuk bicara, aku katakan kepada mereka, "Anak-anakku, adalah tradisi buatmu untuk mendengar tentang kisahku yang bangga menjadi bagian dari suatu bangsa yang berbekal ajaran agama yang kukuh, dan walau beda namun selalu teguh bersatu, dalam menjaga kemerdekaan negaranya.  Jadikan kami, orangtua dan nenek moyangmu teladan, agar engkau tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang berguna bagi agamamu, negara dan bangsamu, serta keluargamu."

Aku berjanji, akan kuteruskan tradisi itu. 


25 CommentsChronological   Reverse   Threaded
inongi wrote on Mar 12
benar Mbak, dan aku juga tetap bangga menjadi warga negara Indonesia dan aku bangga mempunyai bhs Indonesia dan aku tdk akan pernah lupa bhs itu walau aku jauh dr tanah air ku dan aku tetap bersyukur walau berbagai agama dan adat istiadat yg berbeda tetap kita saling hormat menghormati dan akur.
makanya kita selalu pakai bhs indonesia di rumah ngerti tak ngerti itu masalah sendiri :))) yg penting bhs jalan terussss....
butetaruan wrote on Mar 12
Bener banget jeng Sri, yg namanya tradisi yang baik kudu diteruskan.
oetjipop wrote on Mar 12
siappp.. !!

klo gak kita2 siapa lagi yg akan meneruskan tradisi itu....

pa kaba, mbak?
ydiani wrote on Mar 12
bener mba..tradisi baik harus tetap dipertahankan
dtsiq wrote on Mar 13
Menyambut Harkitnas ya mbak.. walau dalam kondisi terpuruk, ayo bangkit Indonesia-ku..!! Merdeka!!
agne5 wrote on Mar 13
Hebat Mba Sriii ^_^ *hugs*... seharusnya kalo bisa semua seperti itu ^_^
dfschmaal wrote on Mar 13
terharu
lynda24rob wrote on Mar 13
Yaaapp...tradisi harus terus di jaga. Btw...apa kabar Mba Sri...kangeeeeeeeeeeennnn, sun sayang dari kami...muach.
_LR'24'_
srhida wrote on Mar 13
mbak Sri...
tulisan ini mengingatkan aku ttg tradisi yang terlupakan :)
ojongresulo wrote on Mar 13
hormat grak
yusliwati wrote on Mar 13
Tradisi kita yg baik-baik harus kita jaga dan kita laksakan..dan kita tanam kan ke anak-anak kita...kalau ngak di mulai dari sekarang...siapa nanti yg akan meneruskan nya...
sepasangmatabola wrote on Mar 13
inongi said
dan aku tetap bersyukur walau berbagai agama dan adat istiadat yg berbeda tetap kita saling hormat menghormati dan akur.
Setuju banget, Nella. Semoga masih ada lebih banyak lagi WNI yang sepandangan dengan kita, ya? :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13
Bener banget jeng Sri, yg namanya tradisi yang baik kudu diteruskan.
Apa lagi kalau besar manfaatnya buat anak-anak kita ya, mbak Butet? :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13
pa kaba, mbak?
Baik aja, mbak Uci. Kabar mbak Uci sekeluarga gimana? :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13
ydiani said
bener mba..tradisi baik harus tetap dipertahankan
Terima kasih, mbak Yeli, sudah seharusnya kan ya? :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13
dtsiq said
Menyambut Harkitnas ya mbak..
Ya sekaligus deh; sambil mengenang almarhum bapakku yang lahir di bulan Maret sekian tahun yang lalu sebelum RI merdeka, mbak. :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13
agne5 said
seharusnya kalo bisa semua seperti itu ^_^
Amiin, mbak Agnes, semoga bangsa kita selalu bersatu. :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13
terharu
Sama dong mbak, pas nulis artikel ini aku juga terharu mengenang keberanian dan keteguhan nenek moyang kita dalam perjuangan mereka memerdekakan tanah air tercinta, Indonesia. :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13
apa kabar Mba Sri...kangeeeeeeeeeeennnn, sun sayang dari kami...muach.
_LR'24'_
Baik aja, mbak Lynda, semoga demikian juga dengan mbak Lynda, Rob dan Eimy. Sun sayang kembali dari sini. :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13
srhida said
tulisan ini mengingatkan aku ttg tradisi yang terlupakan :)
Yah alhamduliLlah kalau sekarang mbak Hida ingat lagi... :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13
hormat grak
Hm, jangan-jangan tim Paskibraka sekolah mas Ari dulu pernah kalah bersaingan sama tim Paskibraka sekolahku di JakSel... :)
sepasangmatabola wrote on Mar 13, edited on Mar 13
Tradisi kita yg baik-baik harus kita jaga dan kita laksakan..dan kita tanam kan ke anak-anak kita...kalau ngak di mulai dari sekarang...siapa nanti yg akan meneruskan nya...
Betul mbak Wati, apa lagi kalau tradisi itu bermanfaat bagi pengembangan jasmani dan rohani anak-anak kita... Bukankah ini juga termasuk amal yang baik, ya mbak? :)
riapalupi wrote on Mar 24
Merdeka Mbak'yu
yeyenkenta wrote on Apr 26
mbak Sri... yeyen dukung dalam menjalankan tradisi keluarga yang postif itu, apalagi kita jauh dinegeri orang, hendaknya tidak lupa dengan budaya bangsa sendiri, agama sebagai penuntun jalan kita.
sepasangmatabola wrote on Apr 26
mbak Sri... yeyen dukung dalam menjalankan tradisi keluarga yang postif itu, apalagi kita jauh dinegeri orang, hendaknya tidak lupa dengan budaya bangsa sendiri, agama sebagai penuntun jalan kita.
Terima kasih buat sumbangan pikirannya yang sangat baik, mbak Yeyen. Semoga kita semua bisa menurunkan norma-norma positif itu kepada generasi penerus, mbak. :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help