Ketika aku masih kecil, adalah tradisi di rumahku untuk meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang selalu siap sedia menuntun setiap langkah kita. Karenanya, kata bapak ibuku, "Berhati-hatilah dalam menempuh jalan hidup." Sebab, sebagaimana pinta yang kita ucapkan kepada Gusti Allah dalam surah Al Fatiha: "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
"Gusti Allah iku ora sare, ndhuk," begitu ajaran ibuku, seraya menyenandungkan Ayat Kursi (Al Baqarah, 255). Demikian agungnya cinta kasih Tuhan kepada kita mahluk ciptaanNya, sehingga layaklah bagi kita untuk senantiasa mengumandangkan puji syukur atas karuniaNya.
Dan adalah tradisi bagiku ketika aku mulai bicara, untuk menghafalkan satu doa ajaran bapakku, "Rabbighfirlii wali walidayya warham huma kama rabbayani soghiroo. Ya Allah ya Tuhanku, kasihilah kedua orangtuaku, sebagaimana mereka mengasihiku semenjak aku masih kecil."
Dan adalah tradisi bagiku setiap kali eyang kakung, kakekku, berkunjung semasa aku kecil, untuk mendengar kisah keberanian dan keteguhan keluargaku mengusir penjajah Belanda dan Jepang walau kemerdekaan negeriku harus ditebus dengan nyawa. Nyawa sekian banyak anggota keluargaku yang tak rela dijadikan budak dan dirampok para penjajah yang kejam.
"Jangan jadikan pengorbanan kami sia-sia, ndhuk," demikian wasiat bapakku. "Jadilah orang yang berguna bagi agamamu, negara dan bangsamu, serta keluargamu. Jagalah Indonesia agar tetap merdeka dan berjaya, jagalah martabat dan harga diri bangsa kita."
Ketika aku masuk Sekolah Dasar, adalah tradisi bagiku untuk mendengar wanti-wanti yang sama. Tentang meyakini Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Sesungguhnya walau berbeda, kita semua, bangsa Indonesia, tetap satu jua. Sesungguhnya negeriku adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdiri atas dasar nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
Aku bangga bahwa hingga hari ini, sekian puluh tahun kemudian setelah kepergian pahlawan-pahlawan dari tanah airku Indonesia, adalah masih juga tradisi buatku untuk menghayati kata demi kata Sumpah Pemuda.
- PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
- KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
- KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Dan adalah tradisi buatku untuk meneruskan ajaran-ajaran luhur itu kepada anak-anakku, generasi penerus yang nantinya mengusung tugas menjadi orang-orang yang berguna bagi agama, negara dan bangsa dan keluarga mereka.
Dan kala tiba waktuku untuk bicara, aku katakan kepada mereka, "Anak-anakku, adalah tradisi buatmu untuk mendengar tentang kisahku yang bangga menjadi bagian dari suatu bangsa yang berbekal ajaran agama yang kukuh, dan walau beda namun selalu teguh bersatu, dalam menjaga kemerdekaan negaranya. Jadikan kami, orangtua dan nenek moyangmu teladan, agar engkau tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang berguna bagi agamamu, negara dan bangsamu, serta keluargamu."
Aku berjanji, akan kuteruskan tradisi itu.